Djarwatiningrum Peni: Berapa Jempol untuk Cerpen-cerpen 13 Perempuan?

Djarwatiningrum Peni, Surabaya


"Cerita Perempuan"..., alurnya agak semrawut, tapi akhirnya mengagetkan di luar dugaan..., Ok...

Dua jempol untuk "Tanya Tukang Cuci", alurnya rapi, enak dibaca, ada klimaksnya. Endingnya tidak terduga. Bagus.

Jempol satu untuk "Kekuatanku". Sederhana tapi aku bisa merasakan gregetnya..., usahanya...

"Cermin Peninggalan", ini baru oke. Satu jempol.

"Rumah Warisan", aku suka. Tapi masih satu jempol, belum terlalu istimewa.

"Tetangga Nenek", alurnya mulai tidak rapi lagi. Tata bahasanya aneh lagi. Bacanya agak bingung.

"Banjir Bik Sarti", lumayan tapi sori tanpa jempol. Klimaksnya kurang oke.

"Hubungan Abadi", aku suka. Menunjukkan identitas penulisnya, tapi belu, jempol.

"Anak Walikota", alurnya tidak rapi, agak membingungkan.

Baca cerpen "Di Balik Gunung", kayak belajar cerpen. Inti ceritanya hanya ketangkap di akhir cerita saja. Betul ya, waktu nulis lagi rindu sama seseorangkah?

No comments:

Post a Comment