Ahmadun Yosi Herfanda: Realis Cenderung Naturalistik

Mengapresiasi 13 Perempuan Yonathan
Catatan Ahmadun Yosi Herfanda

Di tangan saya hari ini ada 13 cerpen karya Yonathan Rahardjo, 13 cerita pendek yang sebagian besar berbicara tentang perempuan. Karena itu, buku  kumpulan cerpen yang merangkum ke-13 cerpen tersebut diberinamnya judul 13 Perempuan.
Judul tersebut mengisyaratkan bahwa semua cerpen dalam buku ini berbicara tentang perempuan. Cerpen "Kekuatanku", misalnya, mengisahkan pedagang warung tenda pecel lele yang dua kali diusir dari tempatnya berjualan oleh seorang haji pemilik lahan tersebut. Atas bantuan seorang marinir, akhirnya dia mendapatkan tempat berjualan di seberang tempatnya semula berjualan. Ternyata laris, dan lahan milik seorang haji yang dia tinggalkan jadi sepi dan kosong melompong.
Itu sebuah kisah biasa, ringan, mirip feature kedai kopi, kisah yang dialami oleh para pedagang warung tenda, yang mengontrak lahan kosong di tepi jalan untuk berjualan. KIsah biasa itu juga diungkap secara biasa pula. Nyaris tidak ada bagian yang unik, juga tidak memancarkan kearifan hidup yang menggugah nurani pembaca, selain potret buram seorang haji yang sirik mellihat kesuksesan pedagang warung tenda, dan rasa dendam sang pedagang pada Pak Haji yang pernah mengusirnya.
Cerpen "Kekuatanku" mewakili karakter cerpen-cerpen ringan Yonathan. Kental warna sosial, namun dikisahkan secara ringan, dengan bahasa keseharian yang hambar cita rasa sastra. Sehingga, cerpen-cerpen Yonathan terasa ringan untuk dibaca, dan habis disantap dalam sekali baca. Memang, menurut Edgar Allan Poe, cerpen adalah prosa yang habis dibaca dalam tempo sekali duduk. Jadi, cerpen adalah prosa yang pendek dan ringan, sehingga habis dibaca dalam tempo sekali duduk - beberapa menit.
Tentu, definisi cerpen yang ideal lebih dari itu. Cerpen adalah fiksi atau cerita rekaan yang mengungkapkan satu masalah tunggal dengan satu ide tunggal yang disebut "ide pusat". Bahkan, menurut konsep creative writing, karena cerpen merupakan salah satu ragam terpenting creative writing, maka di dalam cerpen hendaknya terkandung ide-ide baru (inovatif), menghibur, berguna, dan mencerahkan - sesuai dengan anjran Horatius bahwa sastra mesti  dulce at utile (indah dan berguna).
Sesuai dengan hakikat cerpen sebagai cerita rekaan, maka cerpen harus mengandung elemen tema cerita, karakter, latar, alur (plot), persoalan, dan sudut pandang. Plot sendiri, untuk cerpen realistik, memiliki anatopi lengkap berupa paparan, konflik, klimaks, penyelesaian, dan ending. Dan, menurut sang pencetus creative writing, Ralph Waldo Emerson, itulah elemen-elemen sastra dalam genre creative fiction.

Realis-naturalistik
Cerpen-cerpen Yonathan umumnya adalah cerpen realis yang cenderung naturalistik. Cerpen realis adalah cerpen yang mengisahkan realitas sosial secara apa adanya, tanpa menyertakan rasa simpati maupun antipaati, sehingga paparan persoalannya bersifat obyektif. Sebagai contoh adalah cerpen "Kekuatanku" tadi, yang mengisahkan perselisihan antara Pak Haji denganpedagang warung tenda secara apa adanya, sesuai yang sering terjadi di dalam realitas kehidupan nyata sehari-hari.
Beberapa cerpen Yonathan jugs cenderung naturalistik, yakni melukiskan realitas yang buruk-buruk. Sebagai contoh adalah "Cerita" perempuan, yang mengisahkan sekelompok perempuan yang saling menceritakan kenangan mereka masing-masing. Salah satu tokoh perempuan menceritakan skandal cintanya dengan seorang pengarang. Kejutan akhirnya, pengarang dan perempuan itu diberitakan tewas berpelukan.
Sebagai cerpen realis, plot kedua cerpen Yonathan di atas -"Cerita Perempuan" dan "Kekuatanku"- datar-datar saja, dengan karakterisasi dan konflik yang kurang tajam, dan latar yang kurang hidup. Suspense-nya juga kurang terbangun di awal cerita. Padahal, elemen-elemen cerpen, yang berupa unsur-unsur pembangun cerit -tema, karakter, suspen, latar, plot, konflik, klimaks, penyelesaian, dan ending- itulah kekuatan fiksi realis. Jadinya, cerpen-cerpen Yonathan lebih mirip sketsa-sketsa sosial.
Cerpen "Cerita Perempuan", misalnya, dari awal hingga akhir nyaris tidak ada yang menarik, datar saja, tanpa suspense, tanpa konflik yang tajam, dan tanpa klimaks. Hanya cerita beberapa perempuan yang saling bercerita pengalamannya, pengalaman yang sama tentang sebuah kehidupan di sebuah pedesaan lereng gunung tepi hutan. Hanya pada akhir cerita ada sedikit kejutan: salah satu perempuan yang kisahnya akan ditulis menjadi novel diberitakan tewas berpelukan dengan sang pengarang, tanpa diceritakan apa sebabnya:

"Aku mau menuliskan kisah kita."
"Apa itu?"
....
Tanpa ucap, keesokan harinya, beberapa koran memberitakan peristiwa dengan ilustra  si foto besar dan berwarna, dengan tulisan judul berukuran besar.
Salah satunya: "PENGARANG DAN PEREMPUAN TEWAS BERPELUKAN."

Begitu juga cerpen "Kekuatanku", lebih mirip sketsa kehidupan, atau feature kedai kopi yang ringan. Seorang pedagang warung tenda pecel lele yang laris diusir oleh Pak Haji, karena lahannya akan ditempati oleh saudaranya untuk berjualan makanan juga, lalu ia pindah ke lahan kosong di sebelahnya, yang juga milik Pak Haji, tapi akhirnya diusir juga. Akhirnya ia pindah ke seberang jakan dan laris juga. Sementara kontrakan Pak Haji jadi kurang laku dan warung tenda saudara Pak Haji juga sepi. Begitu saja, tanpa karakterisasi dan konflik yang tajam, juga tanpa sentuhan bahasa sastra yang indah dan imajinatif.

Kisah Perempuan
Keunggulan cerpen-cerpen Yonathan ada pada bagian yang ini, yakni cerpen-cerpen yang digarap dengan lebih serius, dengan citarasa sastrawi yang lebih terasa. Misalnya, "Banjir Bik Sarti", "Korban Banjir", dan "Hubungan Abadi". Umumnya juga kental warna sosialk tapi digarap tidak sebatas sketsa, namun dengan sentuhan sastra yang lebih terasa.
Cerpen-cerpen pada bagian ini umumnya juga bercerita tentang perempuan, mengisahkan perempuan-perempuan yang ada di sekitar kehidupannya, sejak neneknya, emaknya, tetangganya, sampai perempuan-perempuan fiktif yang mampir ke dalam imajinasinya.
Yang paling menarik, barangkali cerpen "Di Balik Gunung" dan cerpen "Hubungan Abadi". Hanya, judulnya yang kurang eye caching, tapi narasinya cukup indah dan sastrawi. Cerpen "Hubungan Abadi" mengisahkan seorang tokoh (karakter) yang sering dihampiri banjir. Pada air banjir yang kecoklatan ia biasa berkaca.
Tapi, kali ini yang tampak pada air bukan wajahnya, namun wajah almarhum emaknya, dan saat itulah kenangan-kenangan indah bersama sang emak terputar kembali. Kehadiran wajah sang emak makin mengepungnya, tampak di mana-mana, dan menggelisahkannya. Bayangan wajah emak baru hilang ketika sang tokoh (aku, seorang perempuan) mendoakan kebaikan sang emak.
Begitulah sekilas cerpen-cerpen Yonathan dalam buku 13 Perempuan. Ada cerpen yang lemah, ada pula yang kuat. Memang, seorang cerpenis, yang kampium sekalipun, tidak selalu dapat melahirkan cerpen-cerpen yang bagus. Banyak yang bagus, tak kurang yang buruk. Cerpenis sekelas Putu Wijaya dan Seno Gumira Ajidarma pun banyak menulis cerpen buruk, meski tidak kurang cerpennya yang bagus dan
fenomenal.
Jadi, kasus Yonathan adalah kasus yang wajar-wajar saja dalam dunia creative writing. Jadi, tidak perlu disesalkan. Dengan disertakannya cerpen-cerpen yang lemah, di tengah cerpen-cerpen yang kuat, justru memberikan gambaran yang lebih utuh tentang wajah seorang cerpenis. Salam!

Pamulang, 14 November 2010.
(Disampaikan dalam Bedah Buku 13 Perempuan di Badan Perpustakaan dan Arsip Derah Provinsi Banten, Serang, 16 November 2011)

No comments:

Post a Comment