Infovet: Liputan 13 PEREMPUAN di Majalah Infovet


Majalah Infovet Edisi Pebruari 2012

Peristiwa

SOSIALISASI KEDOKTERAN HEWAN/ PETERNAKAN DENGAN SASTRA

Wartawan Infovet Drh Yonathan Rahardjo diundang dan hadir dalam Rangka Hari Kunjung Perpustakaan 2011, Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) Provinsi Banten guna Bedah Buku "13 Perempuan" karyanya yang terbaru pada Rabu, 16 November 2011 pukul 10.00 sampai dengan pukul 12.00 WIB. Acara bertempat di Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Banten, Kota Serang, Banten, dihadiri oleh siswa dan guru sekolah, serta kalangan masyarakat umum.
Buku 13 Perempuan merupakan buku kumpulan cerpen (cerita pendek) karya Yonathan Rahardjo, yang diterbitkan oleh Penerbit Nuansa Cendekia Bandung pada 2011. Sebagai pembicara pertama adalah Ahmadun Yosi Herfanda, penyair dan sastrawan nasional yang Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta dan Redaktur Budaya Harian Republika Jakarta. Sebagai pembicara kedua Kurnia Effendi, cerpenis dan sastrawan nasional.
Dalam presentasinya, yang juga tertuan dalam makalah yang berjudul "Mengapresiasi 13 Perempuan Yonathan, Catatan Ahmadun Yosi Herfanda", Ahmadun mengatakan 13 cerpen karya Yonathan Rahardjo besar berbicara tentang perempuan. “Karena itu, buku  kumpulan cerpen yang merangkum ke-13 cerpen tersebut diberinya judul 13 Perempuan."
Menurut Ahmadun, "Cerpen-cerpen Yonathan umumnya adalah cerpen realis yang cenderung naturalistik," kata Ahmadun seraya memaparkan, cerpen realis adalah cerpen yang mengisahkan realitas sosial secara apa adanya, tanpa menyertakan rasa simpati maupun antipaati, sehingga paparan persoalannya bersifat obyektif. Selanjutnya menurut Ahmadun, beberapa cerpen Yonathan juga cenderung naturalistik, yakni melukiskan realitas yang buruk-buruk.”

Sosialisasi Dokter Hewan

Mengutarakan pendapat di depan hadirin yang juga tertuang di dalam makalahnya yang berjudul "Penyuluh dalam Pembuluh, Pembicaraan mengenai Yonathan Rahardjo", pembicara kedua cerpenis dan sastrawan Kurnia Effendi mengatakan, "Mari kita lirik sekilas karya-karyanya. Baik yang memenangkan sayembara (novel Lanang, 2008), atau yang dihimpun dari yang terserak dalam banyak media cetak. Cukup mengesankan. Mengapa?"
Jawab Kurnia Effendi sendiri, "Yonathan mengirimkan dan mengumumkan cerpen-cerpennya ke pelbagai nama koran atau majalah atau jurnal atau semacam media berkala. Yonathan begitu peduli pada “daerah pinggiran” dan itu cukup terbaca dengan materi cerpen yang diusung: realitas yang umum terjadi di permukiman urban, persoalan yang muncul di tengah masyarakat yang berjarak (meskipun tinggal di kota besar, tetapi dalam wilayah yang kerap terendam banjir)."
Fakta yang lain, lanjut Kurnia Effendi, tulisan Yonathan yang realis itu juga mengisi ruang-ruang baca dalam khazanah relijius. Dari hulu yang sama, sastra, Yonathan mengalirkan buah pikirannya dari hasil memotret lingkungan kehidupannya ke ladang-ladang yang beragam.
“Yonathan lebih menitikberatkan menjadi penyuluh dengan sikap-sikap sederhana. Elan semangatnya ditujukan untuk penyadaran bahwa di tengah masyarakat kita masih (entah sampai kapan) terdapat ketidakadilan, bencana politik, penindasan fisik dan psikis, dan rupa-rupa kejadian yang patut dicermati,” kata Kurnia Effendi seraya melanjutkan, dalam menulis Yonathan lebih mendekati pembuluh utama dalam kehidupan. Yonathan ingin turut merasakan apa yang sedang berlangsung dari hari ke hari, melalui dua profesinya.
“Sejatinya Yonathan seorang dokter hewan,” tegas Kurnia Effendi, “Menyusul tiga sastrawan dokter hewan pendahulunya (Marah Rusli, Asrul Sani, dan Taufiq Ismail), Yonathan tidak meninggalkan ilmu dari latar pendidikannya. Setidaknya ia tercatat sebagai salah seorang dari 100 Dokter Hewan Berprestasi dalam rangka 100 Tahun Dokter Hewan Indonesia. Prestasi itu bukan semata tersemat, namun dibuktikan dengan sejumlah tulisan yang membahas perihal dunia kehewanan. Bahkan, saya kira, novel Lanang yang ikut memenangi lomba novel DKJ 2006 juga menyentuh keilmuan tentang hewan.”
"Yonathan bekerja dengan dedikasi yang tinggi (menjadi penulis maupun menjadi ahli hewan), penuh kepedulian dan keterlibatan," kata Kurnia Effendi seraya melanjutkan, dalam peta sastra Indonesia, Yonathan Rahardjo boleh dicatat sebagai penggiat angkatan 2000-an, dengan tulisannya yang tersebar ke berbagai daerah. Bahkan pada tahun 2009, Yonathan terpilih oleh kurator menjadi penulis Indonesia peserta Ubud Writers and Readers Festival di Bali. (yonathan)

No comments:

Post a Comment