Maria Dorotea: Skripsi S1 Representasi Feminis Dalam Buku 13 Perempuan



Dapat A

Representasi Feminis Dalam Buku 13 Perempuan Karya Yonathan Rahardjo

Skripsi S1 

oleh 
Maria Dorotea D.A. Stevianita 

Program Studi Ilmu Komunikasi 
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi 
Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga 
2012 

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Dalam melakukan penelitian Analisis Wacana Kritis Sara Mills pada 13 Cerpen peneliti menemukan beberapa kesimpulan:
1. Teks dipandang sebagai sarana sekaligus media melalui mana satu kelompok mengunggulkan diri sendiri dan memarjinalkan kelompok lain. Pada sebagian besar cerpen, perempuan diposisikan sebagai pencerita, menjadikan realitas tampil apa adanya, karena realitas didefinisikan oleh aktor yang bersangkutan.
2. Realita yang direpresentasi melalui penempatan perempuan sebagai subjek cerita, mencerminkan gagasan pengarang. Karena isi media tidak merupakan murni realitas maka representasi lebih tepat dipandang sebagai cara bagaimana komunikator membentuk versi realitas dengan cara-cara tertentu bergantung pada kepentingannya, apalagi ditulis oleh pengarang laki-laki.
3. Enam cerpen menunjukan ideologi perjuangan gender, dengan empat diantaranya beraliran liberal (”Cermin Peninggalan”, ”Rumah Warisan”, ”Korban Banjir” dan ”Hubungan Abadi”) dan dua cerpen menampilkan ideologi feminis sosialis (”Kekuatanku” dan ”Ingat Pesan Sarni”). Sementara tujuh cerpen lainnya menampilkan ideologi patriakhi dari pengarang. Meski masih patriakhi, penggambaran perempuan yang ditampilkan pada setiap cerpennya, tidak lagi perempuan yang lemah, pasif dan tidak berdaya. Kedekatan Yonathan dengan perempuan-perempuan dalam hidupnya, menjadikan Yonathan Rahardjo sensitif mengangkat pengalaman hidupnya menjadi kenyataan baru. Hasilnya muncullah gambaran-gambaran perempuan apa adanya dan berbeda. Berdasarkan hal ini, pengarang dapat dikategorikan sebagai ‘feminis setengah jalan’, karena pandangan feminismenya masih terangkai dalam bingkai pemikiran dan perspektif patriarki. Hal ini disebabkan kesadaran
109
akan perjuangan feminis beserta alirannya belum sepenuhnya menjadi pemikiran dari Yonathan Rahardjo. Faktor lainnya adalah karena kelelakian pengarang, latar belakang pendidikan dan lingkungan dimana Yonathan Rahardjo tinggal turut memberikan pengaruh.

No comments:

Post a Comment