Search This Blog

Showing posts with label Komentar Pembaca. Show all posts
Showing posts with label Komentar Pembaca. Show all posts

Lely Chusna: “13” Si Angka Sial Adalah ...

Bedah Buku 13 Perempuan dan Margendut Sayang

http://www.lelychusna.my.id/2012/10/bedah-buku-13-perempuan-dan-margendut.html 

Jum’at 19 Oktober 2012, pukul 14.00 WIB. Terik mentari siang itu sedikitpun tak menyurutkan smangat kami (Generasi Muda yang ingin lebih kenal dengan Buku dan Sastra) bertempat di Sanggar Guna kita mengikuti event Bedah buku. Dua Buku yang di Bedah siang itu adalah buku 13 Perempuan karya Yonathan Rahardjo dan Margendut Sayang karya Prawoto R. Sujadi. Dua buku yang sama-sama bertemakan tentang perempuan. Dua buku juga yang mengantarkan Maria Dorotea (yang akrab dipanggil Tea) Mahasiswi Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga mendapat Nilai A untuk Skripsinya, yang memang mengangkat tentang Male Feminism dan wanita yang mengkaji dua buku tersebut.
Kesempatan hari itu juga tea manfaatkan buat berbagi pengalaman kepada semua peserta bedah buku sepanjang perjalanannya bergelut dengan kertas dan “male Feminism” dan semestapun mendukung terik matahari tak lagi menyelekit di kulit yang ada hanya cuaca redup yang menyejukkan dan penuh semangat.

“Ok.. sebelum tea bahas jauh tentang male feminism, kira-kira temen-temen semua ada yang tau nggak perbedaan sek dan gender??” Tanya tea
“Sama-sama tentang jenis kelamin…” Jawab salah satu peserta bedah buku dan semua peserta sepakat dengan jawaban itu.
“Ok.. Jadi perbedaan sek dan Gender adalah kalo sek perbedaan jenis kelamin secara biologis atau ilmu kedokteran, sedangkan gender adalah perbedaan fungsi, peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan dalam masyarakat sosial” Jelas tea.
Suasana makin hidup dengan berbagai Tanya jawab soal male feminism yang lebih menitik beratkan pada sosok seorang laki-laki yang sangat menghargai wanita dan sadar akan kesetaraan gender. Sampai singgung2 juga masalah Waria  “bagaimana dengan waria???” karena pada dasarnya waria juga manusia (makhluk ciptaan Tuhan) ya kita tetep harus menghargai mereka juga.
Satu poin yang serius namun jarang terlintas dipikiran kita tentang Wanita adalah, kita setuju donk kalo wanita adalah sosok yang luar biasa, hampir semua agama juga mengagungkan derajat wanita. Dan dizaman modern seperti saat ini banyak banget wanita-wanita luar biasa. Wanita banyak yang jadi anggota dewan, presiden, menteri, manager dsb. Tapi masalahnya “kenapa wanita masih tidak percaya diri dan suka menganiaya dirinya sendiri…???” Badan gemuk sedikit cepet2 diet, item dikit perawatan, ikal dikit bonding, smooting dsb. Kenapa wanita kurang bersyukur dan kurang bisa menjadi dirinya sendiri seutuhnya..?? (jawabannya ada pada diri kalian sendiri, hey para wanita) ^_^

Matahari kian melaju ke barat, setelah maria dorotea bicara panjang lebar soal wanita dan male feminismnya. Tiba saatnya Yonathan Rahardjo membedah bukunya “13 perempuan” judul 13 perempuan diambil dari keseluruhan isi cerpennya yang memang membahas 13 orang perempuan, dan sekaligus ingin menghapus anggapan bahwa 13 adalah angka sial. Lain dengan buku “13 perempuan” yang berisi cerpen sesuai dengan pengamatan pengarang tentang perempuan, buku “Margendut sayang” karya Prawoto R. Sujadi berisi tentang kumpulan puisi sepanjang perjalan cintanya dengan wanita yang ia cintai (yang kini adalah teman hidup penulis) yang tertulis pada status2 di jejaring sosial dan sms. Buku ini juga beliau persembahkan bagi para undangan di pernikahan beliau sebagai souvenir.
“ini juga terinspirasi dari mas yonathan rahardjo karena dulu beliau juga memberi souvenir pada para undangan dengan buku, tapi bukan kumpulan puisi cintanya namun kumpulan cerpen perjalanan cintanya dengan sang istri” jelas om Pra
Untuk judul “margendut sayang” dan “13 perempuan”, kata “margendut” yang unik dan “13” si angka sial adalah trik marketing juga, setidaknya dari judul buku yang kita bikin ada sesuatu yang WOoW gtu. Jadi nggak sulit buat menarik perhatian pembeli. Tambah mas Yonatan.

Disitu Prawoto R. Sujadi atau sering disebut Om Pra juga berbagi ilmu. Tidak sulit buat menulis, kalian hanya butuh subjek yang ingin kalian angkat, amati subjek itu. Lihat, dengarkan dan rasakan maka mata, hati dan pikiran akan bercerita sendiri melalui tulisan kita.
Selamat berkarya…!!!

Aini Sunnia: 13 Sentuhan Hawa

Resensi Kumpulan Cerpen 13 Perempuan



13 Sentuhan Hawa
Oleh : Aini Sunnia
Judul                           :13 Perempuan
Pengarang                   : Yonathan Rahardjo
Penerbit                       : Medium,Bandung
Tebit pertama kali       : Juli,2011
Tebal                           :108 halaman
Harga                           : Rp 21.000,-
            Drh.Yonathan Rahardjo adalah dokter hewan yang ulet didunia tulis-menulis. Cerpen-cerpennya banyak dimuat di surat kabar dan berhasil mendapatkan penghargaan. Yonathan Rahardjo ini tercatat sebagai  salah satu dokter hewan yang menjadi sastrawan Indonesia.

Kisah-kisah kehidupan kaum hawa yang diangkat melalui cara khusus menghasilkan cerita menawan. Yonathan Rahardjo mampu menguak batin perempuan. Buku ini spesial dipersembahkan untuk kaum hawa yang ingin menyadari jiwanya. Asmara, rindu, dendam, tragedi, dan spiritualitas menggumpal menjadi sebuah pesona unik.
            Kisah-kisah yang diangkat didalam cerpen –cerpen Yonathan Rahardjo sangatlah variatif, tidak mengerucut pada satu pembahasan. buku 13 perempuan ini memuat 13 judul cerpen dan semuanya pernah dimuat di media cetak pada tahun 2007-2010, dan hal ini adalah bukti bahwa karya ini patut diapresiasikan.
            Berbagai kisah yang disajikan, mampu menghipnotis pembaca untuk merenungi kehidupan. Dari cerita yang pendek tetapi sangat mengena kepada pembaca. Semuanya diungkap secara lugas dan tidak dibuat-buat. Menunjukkan kehidupan yang nyata.
            Bagaimana kisah para perempuan ditulis oleh seorang lelaki? Penokohan dan heroisme lelaki memang masih kuat dalam beberapa tulisan di dalamnya. Angka 13 ditakuti karena mengandung kesialan. Dan menjadi perempuan adalah bentuk kesialan yang lain karena kerap menjadi korban kekuasaan laki-laki. Tapi di tangan Yonathan Rahardjo yang terwujud adalah kelembutan, kesahajaan, dan keramahan karena dirangkai dengan kata-kata yang puitis. Melewatkan cerita di dalamnya adalah sebuah kerugian bagi nurani dan moral.
            Cerita “Anak Walikota” dalam buku ini merupakan salah satu cerita yang ringan dibaca. Dalam cerita ini terlihat bahwa Yonathan Rahardjo juga bisa mengusai dunia remaja dengan bahasanya yang ringan . Dari Karya ini, tergambar bahwa Yonathan Rahardjo bukan hanya dokter hewan yang pandai, tetapi juga Sastrawan hebat yang puitis dan logis.

Lia Pandaan: Tantangan yang menarik, Imajinasi yang Luar Biasa

http://id.shvoong.com/books/novel-novella/2267339-13-perempuan/

13 Perempuan
oleh: LiaPandaan

Pengarang : Yonathan Rahardjo
Belum dinilai Kunjungan : 43 kata:300
More About : biografi yonathan rahardjo

Tidak banyak para lelaki yang paham dunia perempuan. Buku Kumpulan Cerpen yang ditulis oleh salah satu penulis cerpen laki-laki yang ternyata juga seorang Dokter Hewan . Nama beliau Yonathan Rahardjo tercatat sebagai salah satu dari 100 Profil Dokter Hewan yang Berprestasi dalam buku 100 Tahun Dokter Hewan Indonesia (2010). Tak disangka dokteryang satu ini juga pandai menulis cerpen, apalagi banyak bercerita tentang perempuan.

Ada 13 cerpen yang berkisah tentang traged, asmara, motivasi, dan tema lain yang diangkat yang semuanya sarat dengan makna untuk kita renungkan baik-baik.Kehidupan yang hiruk pikuk ini , bukan untuk kita sesali , tapi untuk kita cari hikmah di balik semua peristiwa. Pastilah ada sesuatu yang membuat kita bersyukur , karena Tuhan Yang Maha Pemurah selalu memberikan yang terbaik untuk kita.

Meskipun ada beberapa cerpen yang endingnya tidak jelas, tapi tetap membuat buku ini menarik untuk disimak. Para pembaca harus cerdas menelaah maksud yang tersembunyi dari ending. Inilah tantangannya yang menarik, kita bisa menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi pada para tokoh cerita (Judul: Cerita Perempuan). Bahasa yang dipakai dalam Kumpulan Cerpen ini cukup nyaman. Sehingga membuat pembaca tenang untuk menelusuri kata demi kata yang terangkai indah. Imajinasinya tentang kerajaan Panjalu tempo dulu, tentang Galuh Candra Kirana, juga luar biasa. Membuat kita para pembaca ikut larut dalam cerita masa lalu. Sumber: http://id.shvoong.com/books/novel-novella/2267339-13-perempuan/#ixzz2CZW0qy7O

Ashree Kacung: Lapisan Rindu dalam cerpen Cermin Peninggalan

Sumber: http://www.facebook.com/notes/ashree-kacung/lapisan-rindu-dalam-cerpen-cermin-peninggalan/10151084262081691. 
Keterangan Foto: Ashree Kacung (kiri) dan Anas AG saat Launching 3 Buku Terbitan Gus Ris Foundation termasuk Novel Wayang Uripkarya Yonathan Rahardjo di Bojonegoro 20 Oktober 2012

Lapisan Rindu dalam cerpen Cermin Peninggalan .
by Ashree Kacung on Friday, 2 November 2012 at 13:47 ·

Lapisan Rindu dalam cerpen Cermin Peninggalan karya Yonathan Rahardjo*

*Sebuah catatan yang belum selesai

Ngene, ketika diam – diam kita melihat pemikiran yang tertuang baik melalui media apapun, maka disana akan ada struktur. Nah struktur ini tidak hanya satu lapis, akan tetapi bisa berlapis – lapis. Bentuk visual atau gambaran lapisan struktur bisa dilihat pada bangunan yang sudah termanifestasikan. Secara gampang bisa kita sebutkan bahwa manifestasi visual adalah gambaran struktur dari peresapan fenomena.

Sekarang mari kita lihat manifestasi visual dari fenomena yang ditangkap oleh cerpenis. “Satu daun melayang dari ranting pohon jambu biji yang termangu di depan rumah tempat duduk termangunya. //Aku perempuan tua…menakar perjalananku dengan anak perempuanku. (hal. 37)”. Bentuk fenomenanya adalah daun melayang dari ranting, yang kemudian di manifestasikan dengan anak perempuanku.

Secara struktural, anak perempuanku adalah lapis pertama dari daun melayang. Karena jelas akan ada lapis – lapis lain setelahnya. Atau bisa jadi lapis lain itu di picu oleh fenomena yang lain tetapi masih ada hubungannya.

Peristiwa ketika melihat seorang laki – laki berjalan akan memicu ” Aku perempuan kabur mata, melihatnya dengan terbata seperti melihat diri sendiri dalam sosok pejalan kaki itu. (hal 38)” dan “…aku malah ingat dia, lelaki suamiku (hal 39)”. Laki – laki yang berjalan secara simultan membuat struktur lapisan baru berupa sosok suami. Jelas karena keduanya punya hubungan jenis kelamin, yakni sama – sama lelaki.

Tetapi kemudian struktur ini, membuat lapisan kedua berupa “Mas, suamiku, hanya setelah aku ingat tentang anak bungsu kita yang terasing di ujung lain pulau kita. (hal 40)”. Tidak berhenti sampai disini lapisan itu kemudian memicu lapisan ketiga berupa “Begitu mengingatnya, satu-satunya anak perempuan kita, tiba – tiba aku mengingat dirimu dan merasa kita…(hal 41)”.

Lapisan terakhir yang bisa kita sebut adalah “Dan kini, satu – satunya anak perempuan kita, justeru telah menjadi pemimpin iman bagi umat (hal 42)”. Setelahnya hanya ada kesimpulan korelasional diantara lapisan – lapisan tersebut guna menjadi struktur yang utuh.
Struktur yang utuh itu ialah “Kalau aku yang di cerminkan olehnya sudah ada, bukankah kehadiran cermin itu sudah tidak perlu lagi ? (hal 43).” Artinya bahwa satu peristiwa secara kronologis paling tidak bisa menimbulkan empat lapis peristiwa yang begitu korelatif.

Apa gunanya membaca struktur dan lapisan – lapisan peristiwa setelahnya ?

Paling tidak kita akan mengetahui pola pemikiran cerpenis. Kita bisa melihat konstruksi seperti apakah yang akan dibangun di dalam cerpennya. Dengan melihat lapisan – lapisan itu secara detil, sebenarnya dalam ranah pengetahuan kolektif kita akan berpendar sesuatu yang terberi secara begitu saja, atau sebut saja sebagai taken for granted perception. Contohnya adalah daun dan perempuan, otak kita secara tiba – tiba akan menproyeksikan bahwa daun adalah simbol perempuan. Dalam konstelasi berfikir alam bawah sadar kita ternyata sudah tersetting oleh lingkungan alam bahkan kebudayaan. Tidak ada atau jarang sekali lelaki dihubungkan dengan daun. Paling banyak, lelaki dihubingkan dengan ranting atau pohon atau akar. Artinya daun bisa jadi sangat identik dengan feminisme secara kultural.

Kemudian kita juga akan bisa melihat kecenderungan logika. Kebanyakan memang cerpenis menggunakan logika normatif. Penggunaan logika normatif berhubungan erat norma-norma yang ada di dalam masyrakat. Kebanyakan produk sastra punya akses atau lebih mudah menggunakan dogma – dogma normatif dalam penyampaiannya. Entah karena ia hanya mengcapture peristiwa atau memang murni refleksi kepribadian si penulis atau bisa juga juga ada maksud terselubung yang diselundupkan di dalamnya. Logika normatif itu bisa kita lihat melalui hubungan antara, lelaki yang berjalan, suami, anak perempuan dan keimanan. Secara tidak sadar kita juga digiring untuk membuat struktur normatif dalam alam bawah sadar kita. Bahwa keimanan mestinya mampu membuat hubungan keluarga menjadi baik.

Beda misalnya ketika logika yang dipakai adalah logika destruktif. Ketika melihat lelaki berjalan bisa jadi lapisan yang timbul adalah pria idaman lain, anak hasil pereselingkuhan dan keberdosaan. Ternyata logika destruktif tak kita temukan pada cerpen tersebut.

Sekarang mari kita coba melihat alasan kenapa cerpen itu ada dengan segala struktur dan lapisan – lapisannya.
Fenomena berasal dari realitas. Dan realitas itu bisa sejajar atau bahkan sebaliknya. Prosesnya bisa dilihat seperti bahwa:
1.penulis melihat seorang ibu, kemudian di buatlah struktur cerita.
2.Sebaliknya sebagaia lelaki -yang identik dengan ayah-, ia (cerpenis) merindukan sosok ibu. Maka ketika dia melihat sosok ayah dituliskanlah cerita tentang ibu.
3. Penulis merindukan sosok saudara perempuan yang begitu dinanti kedatanganya.
Ketiga peristiwa tersebutlah yang paling mungkin mendasari cerita ini ada. Dan dari ketiga peristiwa tersebut lapisan – lapisan struktur diciptakan untuk kemudian di dalamnya dimasukkan logika normatif.

Kerinduan memang satu hal yang begitu dahsyat, ia bisa dengan sangat tajam membuat sayatan – sayatan ingatan menyembul. Keperihan, kesendirian, kekalutan yang begitu erat dengan rindu membuat sayatan itu semakin nyata. Kekosongan akan semua sosok kini telah begitu kompleks terisi oleh lapisan – lapisan yang memberikan pancaran energi. Kekuatan pancaran energi rindu inilah yang merupakan titik awal manifestasi sebuah karya.

Surabaya, 2 November 2012

Han Ardan: Membuatku Teringat pada Negeriku

"13 Perempuan" sebuah kumpulan cerpen karya mas Yonathan Rahardjo, membuatku teringat pada negeriku, Panjalu. Namun perasaan rindu itu harus aku tahan....... biarlah sekarang ini aku di sini, di kota yang tidak ada polusi bila malam hari hingga pagi tiba.... (*_*) Han Ardan

Caheastboys: Liputan Blogger Bojonegoro tentang Kelas Menulis Bersama

Liputan Blogger Bojonegoro tentang Kelas Menulis Bersama


Kelas Menulis Bersama Yonathan Rahardjo

Posted by caheastboys on February 18, 2012 in Kegiatan, Pelatihan | 2 Comments

Di hari minggu tepatnya tgl 12-02-2012 seperti biasanya kami berkumpul untuk mengikuti kelas menulis dari jam 09.00-12.00 yang kali ini kedatangan tamu istimewa penulis novel aseli Bojonegoro Yonathan Rahardjo beliau adalah seorang lulusan kedokteran hewan dari universitas airlangga dan seperti biasa juga saya mewakili anak2 blogger Bojonegoro datang lebih dahulu di sanggar guna ehh ternyata sesampainya di TKP {sanggar guna} bukanya saiya yang nyambut pak Yonathan malah saiya yang disambuuut hehehhehe biasaaa anak pejabat {ngareep dalam angan2 }, bukan hanya pak Yonathan saja di situ tapi juga sudah ada pak anas, pak Prawoto dan temennya kira-kira sekitar jam 09.15 wib setelah penyambutan saiya selesai dalam pikiranku >>>og gak masuk dan dimulai acaranya>>bukan kereta kuda lhow yaa


setelah semuanya berkumpul jam 09.30 akhirnya dimulai kelas menulisnya yang di mulai oleh pak anas selaku tuan rumah pertama beliau mengucapkan selamat buat salah satu anak didiknya cz karya tulisnya yang berjudul “bintang di kebun bintang” yang terinspirasi dari kegiatan kelas menulis yang ke-2 di kebun blimbing telah di cetak di koran jawa pos  .dan yang kedua memberikan sambutan untuk pak Yonathan yang bersedia datang ke sanggar guna untuk menurunkan sedikit ilmunya kepada kami.

Dari sinilah pahlawan-pahlawan kita datang untung sebelum acara inti dimulai yang saya maksud adalah temen2 Blogger Bojonegoro  yaitu Dedexz, Djuna, dan si manis aylla. disini   pak Praw sebagai moderator selaku menejernya pak Yonathan ia memberikan ulasan sedikit tentang buku 13 perempuan yang berisikan tentang perempuan pinggiran yang mencoba bertahan melawan badai kehidupan.dan pada akhirnya mbak tea juga disuruh pak praw untuk membacakan sedikit cerita dri novel 13 perempuan tersebut.kini tibalah saatnya sank pendekar yang sudah menulis beberapa novel ini unjug gigi hehehhehehe dan menurunkan ilmunya kepada kita tentang cara-cara penulisan, dan untuk memperkuat imajinasi siswa kelas menulis beliau berpesan menulislah karena tulisan akan menemukan pembacanya sendiri dan jangan takut bila tulisanmu di tolak oleh orang lain .

 Dan kini tibalah  seksi tanya jawab peserta ,tpi sebelumnya ketua Blogger Bojonegoro {dedexz} menemui pak anas dan mau memberikan hadiah berupa voucer makan gartiz bagi 6 peserta yang memberikan pertanyaan yang  menjadikan semangat bertanya bagi siswa kelas menulis bertambah.

Dan setelah kegiatan kelas menulis selesai bagi fens2 pak  Uonathan inilah kesempatan untuk meminta tanda tangannya dan foto bersama, diakhir acara ini tibalah saatnya untuk mbak tea untuk mewawancarai pak Yonathan secara pribadi tentunya bersama pak praw selaku menejer hehehhehe tepatnya di taman belakang sanggar guna yang menghabiskan waktu beberapa menit dan keliatannya ilmu yang diserap mbak tea sudah cukup dan sebelum pulang kerumah masing2 mereka pak Yonathan,pak praw,dan mbak tea dikasih oleh2 dari tuan rumah yaitu sayur-sayuran.akhirnya sekian cerita kelas menulis ini bersama pak Yonathan Rahardjo selaku pendekar novel aseli Bojonegoro dan selalu ikuti truz cerita menarik kelas menulis sampai selesai, . . . .

Olyvia Dian Hapsari: ZZ, Ikut Kupas Proses Kreatif 13 Perempuan

Tulisan Olivia Majalah Zigzag di http://www.sma2bojonegoro.com/?p=885

ZZ, Ikut Kupas Proses Kreatif 13 Perempuan

February 13, 2012 · Print This Article

13 PerempuanSMAdaBO-ZZ (baca: Majalah ZIG-ZAG) mendapat kesempatan hadir dalam program kelas menulis yang diadakan di Sanggar Guna, Jl. A. Yani no. 43, Tikusan, Kapas. Pagi itu, Minggu (12/02/) kelas menulis diisi dengan materi bedah buku dan berbagi proses kreatif kumpulan cerpen 13 Perempuan. Kegiatan yang dimotori Anas AG, Redaktur Radar Bojonegoro, sebagai moderator Prawoto, pembina jurnalistik ZZ dan narasumber Yonathan Rahardjo yang merupakan penulis 13 Perempuan.
Tak hanya dihadiri wartawan ZIG-ZAG dan para peserta kelas menulis saja, beberapa orang dari Komunitas Blogger Bojonegoro turut mewarnai acara bedah buku pagi itu. Selain itu kelas menulis juga kedatangan tamu istimewa yaitu Maria Dorote, lulusan SMAN 2 Bojonegoro 2008 yang juga mantan wartawan ZIG-ZAG yang jauh-jauh datang dari Salatiga untuk menuntaskan bahan skripsinya yang kebetulan diambil dari dari kumpulan cerpen 13 Perempuan.
Kegiatan itu dimulai pukul 10.00. Moderator memberikan penjelasan awal dengan menjelaskan cuplikan-cuplikan dari kumpulan cerpen tersebut. Sejurus kemudian Tea yang merupakan mahasiswi UKSW Salatiga memulai dengan menyibak sedikit alasannya megapa mengangkat kumpulan cerpen milik penulis asli Bojonegoro ini sebagai bahan skripsinya. Menurut mereka, cerpen-cerpen Yonathan Raharjo menggambarkan feminisme sebagai potret kekuatan perempuan Indonesia.
Kumpulan Cerpen 13 Perempuan, merupakan Yonathan Rahardjo yang sebelumnya sudah pernah dimuat diberbagai media massa. Kumpulan yang terbit tahun lalu itu berisi cerita perempuan pinggiran yang mencoba bertahan melawan badai kehidupan digali dari pengalaman kehidupan sehari-hari yang ditemui penulis selama ini.
Cerpen-cerpen beraliran realis-humanis itu didasari ketidaksengajaan Yonathan yang melakukan survei kehidupan perempuan. Menurutnya, setiap pengalaman yang didapat disekitar kita, walau itu sederhana dapat menjadi inspirasi dalam merangkai cerita. Lokalitas yang diangkat menjadi dasar dalam pembuatan cerpennya dan tidak mengesampingkan pesan moral yang diusung. Yonathan tetap menjadikan pesan moral sebagi hal utama dalam tulisan sastranya untuk berbagi dengan para pembaca. Kumpulan cerpen 13 Perempuan memotret secara apik kekuatan perempuan pinggiran yang banyak kita temui. Membaca karya ini kita seperti dibawa hidup ditengah-tengah permasalahan yang banyak mendera kehidupan, begitu dekat, dan sangat kental dengan lokalitas.
Dalam proses kreatif penulisan kumpulan cerpen tersebut, pria yang ‘nyantai’ itu membeberkan dengan gamblang perjalanannya saat menulis karya ini. Laki-laki yang berusia 43 tahun itu menceritakan langkah pertama saat mendapatkan inspirasi dari kejadian-kejadian yang pernah dilalui. Beliau menuliskannya sesuai dengan aliran (realisme, naturalis, dan surealis) kemudian menggabungkannya dengan dengan imajinasi. Imajinasi didapatkan dari berbagi hal termasuk membaca buku apa sajasehingga bisa menambah kekayaan bahasa. Terakhir, penulis yang juga alumni SMAdaBO tahun 1987 ini menulis dengan pendekatan hati, mengalir bebas, tanpa paksaan, lalu mengirimkannya ke media massa. Penulis yang tinggal di Gang Iro itu juga berpesan pada peserta supaya jangan cemas bila tulisan tidak diterima redaksi media massa, dan tidak usah takut jika tulisan kita tidak ada pembacanya. “Tulisan itu tidak perlu mencari pembaca, karena pembaca akan dengan sendirinya mencari tulisan itu kemudian membaca dan memberi apresiasi sesuai dengan seleranya masing-masing,” tegasnya saat menyemangati para peserta untuk terus menulis.
Kegiatan kelas menulis pagi itu ditutup dengan sesi tanya jawab oleh peserta kelas menulis. Lulusan Kedokteran Hewan Universitas Airlangga itu juga memberi pesan terakhir untuk kelas menulis bahwa manusia berbuat baik itu adalah kewajiban, dan jangan pernah merasa bahwa kita sudah berbuat baik. Maka dengan itu kita akan menjadi manusia yang ikhlas. Sabagai gong dari acara itu, Anas AG diminta pleh moderator supaya menguatkan para peserta. Ia berpesan jika anda bukan anak bangsawan. Menulislah. Maka orang-orang akan tahu siapa diri anda.
Kegiatan tersebut memberi energi positif kepada semua orang yang hadir. Salah satunya adalah Ollivia. Ia merasa senang sekali mendapat kesempatan minggu itu. “Saya semakin semangat untuk terus menulis, apapun itu, akan saya tulis,” ungkap cewek berkacamat itu pada ZZ. ‘Sepanjang pikiran kami dipenuhi rasa lapang dan semangat untuk terus menulis dari hati dengan baik’ begitulah Yonathan Rahardjo menulis pesan di buku kerja ZIG-ZAG, sambil membubuhkan tanda tangannya. (Olivia-ZZ)


YeNae N' Zhenae: Ceritaku bersama 13 Perempuan

Tulisan YeNae N' Zhenae seorang peserta di http://www.sma2bojonegoro.com/?p=880

Ceritaku bersama 13 Perempuan

February 12, 2012 · Print This Article

Alin bersama Om JoeSMAdaBO-Minggu (12/02), acara Kelas Menulis Sanggar Guna Lantip dimulai. Terlihat jam di Hpku menunjukkan pukul 09.15. Acara yang istemewa sekali bagiku, tentu istimewa juga bagi Alin, Roshida, Oliv, Sheny, dan Irma teman-temanku di SMAdaBO. Acara tersebut dihadiri oleh Yonathan Raharjo sastrawan dan penulis asli Bojonegoro. Penulis yang akrab dipanggil dengan Mas atau Om Joe tersebut merupakan penulis novel Lanang, pemenang sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta 2008. Asal tau saja, Om Joe adalah kakak kelas kami, beliau adalah alumni SMAN 2 Bojonegoro yang lulus pada tahun 1987. Kali ini, Om Joe bercerita tentang kumpulan cerpen terbarunya yang berjudul 13 perempuan.

Selaian penulis hadir juga, Anas Age Redaktur Koran Radar Bojonegoro (Jawa Pos Group), Maria Dorotea, alumni Zig-Zag SMAdaBO 2008 yang saat ini sedang menysusun skripsi tenag kumpulan cerpen 13 perempuan 2008 yang sekarang sedang menyelesaiakan skripsinya di salah satu Universitas di Salatiga dengan mengambil isi dari buku 13 Perempuan. Sebagai Moderator adalah Guru sekaligus pembina Jurnalistik di sekolahku. Aku dan teman-teman bisanya memanggilnya Pak Prawoto.

Kelas Menulis dihadiri kurang lebih sekitar 20 orang yang berasal dari berbagai golongan dan umur. Banyak dari mereka yang umurnya diatas 20 tahun. Tapi bagi aku dan teman-teman di ZigZag tak mengurungkan semangat meskipun umur kami masih menginjak 16 tahun. Kami menyimak dengan antusias semua obrolan dari mereka. Obrolan tersebut bagiku adalah informasi yang jarang bisa diperoleh. Sebab, dalam acara tersebut Om Joe membahas tuntas proses kreativ dari buku 13 Perempuan yang ditulisnya. Kumpulan cerpen 13 Perempuan diambil dari pengalaman yang pernah dialami Om Joe sendiri. Om Joe berbagi kepada kami mengenai proses kreatif dari pembuatan buku 13 Perempuan. Mulai dari problem yang ada dalam cerita, pilihan kata, teknik dan banya hal. Termasuk bagimana Om Joe menciptakan imajinasi yang realis, naturalis dan humanis dalam ceritanya.
Setelah Om Joe menceritakan semua proses pembuatan buku tersebut, sesi tanya jawab pun dimulai. Dua perwakilan ZigZag yang diwakili. Yang pertama aku sendiri, dan yanh kedua adalah Alin. Kami mengacungkan tangan untuk bisa mendapatkan kesempatan bertanya pada Om Joe. Setelah dipersilahkan oleh moderator, Om Joe memberikan jawaban atas pertanyaan kami dengan penjelasan yang menarik. Alhamdulilah saya dan Alin bisa dengan mudah menangkap perkataan yang disampaikan. Om Joe berpesan kepada kami agar kami terus menulis dengan hati. Jangan pernah takut dan jangan putus asa jika tulisan yang kita buat tidak diterima dan tidak disukai orang lain. “Menulis adalah hal yang menyenangkan dan menulis sama halnya dengan berbagi dengan orang lain. Urusan diterima di masyarakat atau tidak itu belakangan”, tegas pria asli gang iro itu.
Banyak pesan yang diberikan Om Joe pada kami, salah satunya “Jika kita sebagai manusia berbuat baik, jangan merasa bahwa kita pernah berbuat baik. Dengan begitu kita akan terus berbuat baik dan menjadi orang ikhlas”. Dalam kelas tersebut, kami semakin terkuatkan untuk terus belajar penulis. Pelajaran daari Pak Pra di Ekstra Jurnalistik yang selama ini kami terima semakin terkuatkan dengan pertemuan bersama Om Joe. Saya berharap kelak bisa menjadi sastrawan dan penulis yang mampu berkarya dengan hebat. Sungguh yang begini adalah pelajaran yang tidak ada dalam mata pelajaran dalam kelas di sekolah. Semangat menulis !!! (Yeni-ZZ)

Myrza Rahmanita: Membacanya dengan hati memunculkan keindahannya.

Pembacaan pertama: Semuanya top. Karena cerpen, ya perspektifnya tidak seperti novel.
Pembacaan kedua: Dengan perspektif yang berbeda secara menyeluruh. Hasl yang terbaca cukup atau sangat berbeda. Cerita kehidupan yang lain. Cerita tentang pengarangnya disaput dengan warna-warna yang sengaja dijungkirbalikkan. Dibuat sederhana namun tetap rumit dan detail. Ada bumbu pembelaan diri dan narsisme di sana-sini. Ada kesedijan juga. Dikemas dengan indah. Tetap dengan saputan yang memunculkan ilusi. Membacanya dengan hati memunculkan keindahannya. Demikian jauh. Demikian dekat. Perjalanan tanda tanya tak berkesudahan.

Myrza Rahmanita
STIP Trisakti Jakarta

Rahmat Ali: Karya baru yang Klop!

Karya baru yang hebat sekali ya! Kalau Celaka 12 tidak klop, karena kurang 1. Tapi kalau "Perempuan 13", nah itu dia yang paling klop.

Rahmat Ali
Pengarang

http://groups.yahoo.com/group/Apresiasi-Sastra/photos/album/684843830/pic/866770157/view?picmode=&mode=tn&order=ordinal&start=101&count=20&dir=asc

Maria Dorotea: Menarik dan sangat simbolik

13 Perempuan: menarik sekali, gambaran yang sederhana dan nyata terangkai sangat simbolik

Maria DoroTea
UKSW Salatiga

http://www.facebook.com/prawoto/posts/2871845556748

Anton Kurnia: Kumpulan cerita penuh kejutan


"Yonathan Rahardjo sungguh pengarang yang tekun dan tak kenal menyerah. Kumpulan cerita penuh kejutan ini adalah sebuah bukti upaya yang patut diapresiasi."

-Anton Kurnia, penulis cerpen dan esai, mantan tetangga Yonathan Rahardjo

Soe Tjen Marching: Menarik untuk disimak karena di berbagai kehalusan perasaan tersirat,-inilah kemahiran menulis yang cukup mengesankan.


Bagaimana kisah para perempuan ditulis oleh seorang lelaki? Penokohan dan heroisme lelaki memang masih kuat dalam beberapa tulisan di dalamnya, namun inilah sebuah karya menarik untuk disimak karena di berbagai kehalusan perasaan tersirat,-inilah kemahiran menulis yang cukup mengesankan.


-Soe Tjen Marching, Komponis, Doktor Studi Perempuan-Perempuan Indonesia,
Monash University, Australia.

Keterangan foto: Soe Tjen Marching di depan peserta kopi darat Grup Lingkar Puisi Prosa Lembaga Bhinneka di Surabaya 3-4 Nopember 2012

Chairil Gibran Ramadhan: Melewatkan cerita di dalamnya adalah sebuah kerugian bagi nurani dan moral

"Angka 13 ditakuti karena mengandung kesialan. Dan menjadi perempuan adalah bentuk kesialan yang lain karena kerap menjadi korban kekuasaan laki-laki. Tapi di tangan Yonathan Rahardjo yang terwujud adalah kelembutan, kesahajaan, dan keramahan. Melewatkan cerita di dalamnya adalah sebuah kerugian bagi nurani dan moral."

-Chairil Gibran Ramadhan, Sastrawan Betawi, Eseis;
Penulis Buku Perempuan di Kamar Sebelah: Indonesia, Women & Violence.

Acep Zamzam Noor: Salah satu dari sedikit kumpulan cerita pendek yang mampu menyentuh saya sebagai pembaca

“Saya bukan seorang pengamat cerita pendek yang intens, namun saya selalu merasa tersentuh bahka tercerahkan setiap kali membaca cerita pendek yang baik. Buku ini termasuk salah satu dari sedikit kumpulan cerita pendek yang mampu menyentuh saya sebagai pembaca.”

-Acep Zamzam Noor, Penyair Tasikmalaya.

Djarwatiningrum Peni: Berapa Jempol untuk Cerpen-cerpen 13 Perempuan?

Djarwatiningrum Peni, Surabaya


"Cerita Perempuan"..., alurnya agak semrawut, tapi akhirnya mengagetkan di luar dugaan..., Ok...

Dua jempol untuk "Tanya Tukang Cuci", alurnya rapi, enak dibaca, ada klimaksnya. Endingnya tidak terduga. Bagus.

Jempol satu untuk "Kekuatanku". Sederhana tapi aku bisa merasakan gregetnya..., usahanya...

"Cermin Peninggalan", ini baru oke. Satu jempol.

"Rumah Warisan", aku suka. Tapi masih satu jempol, belum terlalu istimewa.

"Tetangga Nenek", alurnya mulai tidak rapi lagi. Tata bahasanya aneh lagi. Bacanya agak bingung.

"Banjir Bik Sarti", lumayan tapi sori tanpa jempol. Klimaksnya kurang oke.

"Hubungan Abadi", aku suka. Menunjukkan identitas penulisnya, tapi belu, jempol.

"Anak Walikota", alurnya tidak rapi, agak membingungkan.

Baca cerpen "Di Balik Gunung", kayak belajar cerpen. Inti ceritanya hanya ketangkap di akhir cerita saja. Betul ya, waktu nulis lagi rindu sama seseorangkah?